Pages

Jumat, 23 Januari 2015

THE SILKWORM - SEBUAH RESENSI



Judul Buku  : Ulat Sutra
Penulis         : Robert Galbraith
Alih Bahasa : Siska Yuanita
Penerbit        : PT. Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit : 2014
Cetakan ke   : 1
Tebal Halaman : 536; 23 cm


"Barangkali cahaya itu tersulut lagi karena pahlawannya, seperti semua pahlawan terbaik, telah tiada; barangkali pemujaan itu akan membara selamanya kini; laksana api abadi.." Robert Galbraith, The Silkworm


 Setelah dengan gemilang menyelesaikan kasus bunuh diri supermodel, Lula Landry, di buku sebelumnya, The Cuckoo’s Calling, Cormoran Strike kini bertemu dengan klien yang sama sekali berbeda: Leonora Quine, perempuan setengah baya yang kurus, tidak menarik, dan jauh dari kaya. Wanita itu datang dengan permintaan sederhana, yaitu agar Strike menemukan dan membawa pulang suaminya, Owen Quine. Pria itu, menurut Leonora, adalah seorang penulis terkenal. Leonora terbukti salah, tentu saja. Cormoran sama sekali tidak pernah mendengar nama Quine. Bahkan Robin Ellacott, sekretaris Strike yang lebih mengikuti dunia selebriti, baik di televisi, majalah dan berita-berita infotainment, juga tidak pernah mendengar nama Quine. Owen Quine hanya penulis biasa, yang menulis novel sastra yang juga tidak pernah didengar siapapun. Namun keadaan ini dalam sekejap berubah. 

Owen Quine ditemukan terbunuh dengan kondisi persis sama dengan novel terakhir yang dia tulis, dan belum sempat diterbitkan, Bombyx Mori. Desas desus mengatakan bahwa di dalam novel yang diwarnai gaya Jacobean ini Quine menyinggung rahasia banyak orang. Lebih dari itu, Bombyx Mori disebut-sebut mengungkap kebenaran dibalik kasus bunuh diri Elspeth Fancourt, isteri Michael Fancourt, seorang penulis ternama yang adalah kawan di masa lalu Owen. Dalam sekejap Bombyx Mori, yang masih berupa draft, menjadi karya sastra yang paling dicari. Banyak orang, seperti juga Strike, segera menyadari bahwa Bombyx Mori menyimpan jawaban di balik pembunuhan Quine. Namun tidak banyak orang, yang, seperti Strike, menemukan jawaban dan kebenarannya.

Seperti biasa, Robert Galbraith memanjakan imajinasi pembaca dengan setting yang menarik, plus, sebagai nilai tambah, berbagai makanan yang dimakan Strike. Dibuka dengan Strike yang kelelahan dan kelaparan, menyantap sosis goreng berlemak, telur, bacon dan lain-lain sarapan ala Inggris di satu piring oval besar, The Silkworm menyajikan lembar demi lembar plot cerita yang terjalin rapi. 

Selain setting dengan detail yang kuat, daya tarik dari The Silkworm adalah tokoh-tokohnya. Cepat atau lambat, pembaca akan jatuh cinta pada Cormoran Strike, sang detektif swasta yang mantan anggota Cabang Investigasi Khusus, pria bertubuh besar bak petinju, dengan rambut keriting teronggok jelek dan sebelah kakinya palsu. Serta Robin Ellacott, sekretaris yang efisien, cerdas dan diam-diam menyimpan mimpi kekanakan untuk alih profesi jadi seorang detektif. Cormoran hidup pas-pasan, kisah cintanya mengenaskan dan dibesarkan di keluarga berantakan. Robin hidup layak, dengan kisah cinta sempurna dan latar belakang keluarga harmonis yang menyenangkan, lengkap dengan rumah serta kampung halaman yang indah. Kehidupan Cormoran jauh dari apa yang biasa disebut ‘normal’. Sebaliknya, Robin adalah representasi dari hidup ‘normal’. Berdua mereka saling melengkapi, baik dalam keseharian maupun penyelidikan. 

Sedikit disayangkan, meski Galbraith membuka kasus ini dengan menjanjikan, yaitu dengan ditemukannya mayat Owen dalam kondisi yang sangat menantang petugas forensik, peran ilmu forensik dalam perkembangan kasus ini selanjutnya tidak terlalu nampak. Meskipun, sebenarnya, ada banyak 'lubang' yang bisa diisi dengan penjelasan yang lebih teknis. Pecinta cerita kriminal sejati mungkin akan sedikit kecewa karena besarnya faktor kebetulan dan spekulasi. Selain itu, mungkin akan lebih menarik bila satu atau dua dari tersangka adalah orang yang simpatik dan menyenangkan. 

Meski demikian, beberapa kekurangan ini bisa dengan mudah diabaikan karena Galbraith berhasil menjalin penyelidikan ini dengan sangat baik, yaitu dengan mengedepankan kekuatan logika, ketelitian dan pengenalan Cormoran akan karakter manusia. 

Kelihaian Galbraith dalam membuat karakter memang tidak perlu diragukan. Teman-teman lama Strike yang banyak membantu dalam kasus ini juga merupakan nilai tambah tersendiri. Nick, ahli gastroentology yang ayahnya adalah sopir taxi dengan pengetahuan tak terbatas akan jalan-jalan tikus di London, Ilsa, pengacara yang kemudian mewakili Leonora. Polworth, penyelam handal yang kelewat gemar akan tantangan. Dan tentu saja Al Rokeby, adik seayah Cormoran, sang pangeran muda berkendaraan Alfa Romeo merah, putera resmi dari sang bintang rock legendaris Jonny Rokeby. Adik seayah lain ibu ini rupanya diam-diam mengagumi sang kakak. Berkali-kali dia menjadi jembatan antara Cormoran dengan kehidupan dunia elite para subjek penyelidikannya. Al sangat gembira bisa terlibat dalam petualangan 'kehidupan nyata' meskipun itu sempat membuatnya dikonfrontasi oleh petugas kepolisian dalam situasi konyol.

Untuk kasus pembunuhan yang sebenarnya tergolong brutal, The Silkworm dikemas dengan cukup apik, jauh dari kesan sadis. Emosi yang tertuang cukup, tapi tidak berlebihan. Penggambarannya detail, namun tidak mengerikan. Dari bobot cerita, jenis kejahatan, ditambah lagi dengan cuplikan buku-buku karya Quine yang cukup vulgar, buku ini dapat dikategorikan sebagai bacaan dewasa.

Buku ini adalah buku yang wajib dibawa kalau kita bermaksud menghadiahi diri sendiri sebuah akhir pekan yang tenang, dimana kita bisa merasakan jalanan sunyi London yang membeku, berdesakan di Tube, bahkan mencium harumnya lemak goreng serta menyantap English Breakfast yang panas dan lezat,  tanpa harus meninggalkan sofa. 

Sabtu, 17 Mei 2014

Howl's Moving Castle - Kutukan Yang Membebaskan


I luv this book!! Oke.. sebagian karena tokoh utamanya, Sophie Hatter, rasanya kok mirip sekali dengan diriku sendiri (dan dibenarkan oleh si Artis, yang aku yakin masih tetap satu-satunya pembaca blog-ku ini). Sebagian lagi, karena buku ini enak dibaca. Bahasanya lucu. Lugas-lugas rada sedikit apatis tapi lucu.. Aku belum baca bahasa Inggrinya, sih. Tapi rasanya pasti asyik juga.

Howl's Moving Castle adalah karya Diana Wynne Jones, diterbitkan di London. Seperti cerita anak-anak terbitan Inggris lain yang pernah kubaca, Howl's Moving Castle juga punya gaya bahasa yang ringan. Sederhana. Tapi mewakili banget karakter tokoh utamanya, dalam hal ini Sophie Hatter, sang puteri pembuat topi. Cerita ini ditulis dengan setting Negeri Ingary.. yang digambarkan sebagai 'negeri dimana sepatu ajaib dan jubah yang bisa membuatmu menghilang benar-benar ada'. Sebentar, jadi ingat Cloak of Invisibility-nya Harry Potter, kan?  Well, Howl's Moving Castle diterbitkan Tahun 1986, jadi bukan mencontoh Harry Potter. Malah dengar-dengar buku ini adalah salah satu buku yang menginspirasi JK. Rowling menuliskan Harry Potter, lho.. Tapi tenang aja, ceritanya beda jauuuh.. 

Seperti yang sudah aku sebutkan diatas, sejak pertama baca, aku merasakan banget kemiripan si Sophie Hatter ini dengan aku. Kemiripan pertama, kami sama-sama anak pertama. Kemiripan kedua, kami sama-sama yakin tidak punya keberuntungan dalam hidup ini. Di Negeri Ingary, dipercayai bahwa anak pertama tidak akan menemukan keberuntungan kalau dia merantau. Itulah kenapa Sophie percaya, kalau dia dan kedua adiknya pergi merantau, dia akan jadi orang yang merasakan kegagalan dan keburukan. Nah, Sophie punya dua orang adik, yaitu Lettie yang cantik dan Martha yang cerdas. Yang Sophie tidak tahu, bakat sihir paling kuat justeru menurun pada dirinya.Kekuatan sihir Sophie, yang tidak disadarinya, adalah kata-katanya bisa menempel seperti mantera, dan bahkan bisa menghidupkan benda-benda.

Di Negeri Ingary saat itu ada dua penyihir hebat yang paling ditakuti. Yang pertama adalah Nenek Sihir dari Waste. Yang kedua adalah Penyihir Howl, yang tinggal di sebuah istana bergerak yang melayang di atas tanah. Penyihir Howl ini jauh lebih menakutkan, karena menurut desas-desus, suka memakan hati dari gadis-gadis muda yang cantik. Sophie sama sekali tidak menyangka bahw dalam satu hari dia akan berurusan dengan keduanya.

Karena kesalahpahaman, Nenek Sihir dari Waste telah menyihir Sophie menjadi tua. Berubah menjadi nenek berumur 90 tahun ternyata mengeluarkan sisi lain dari kepribadian Sophie. Sophie yang semula penakut, tiba-tiba dengan gagah berani menyerbu masuk ke rumah Howl dan memaksa untuk tinggal disana. Bukan cuma itu, Sophie berhasil mengintimidasi Calcifer, jin api di rumah Howl dan memaksa si jin takluk padanya, Sophie berhasil menindas Michael, murid magang Howl, yang akhirnya membiarkan dia tinggal. Sophie juga telah mengobrak-abrik rumah Howl, membersihkannya sampai mengkilap dan bahkan akhirnya membuat Howl angkat tangan juga dan membiarkannya berbuat semau-maunya. 

Setelah beberapa lama berkuasa di rumah Howl, dan menjual beberapa mantera ngawur pada pelanggan yang datang untuk beli mantera dari Howls, Sophie akhirnya menemukan bahwa Howl bukan penyihir jahat seperti yang selama ini mereka kira. Lambat laun, setelah membantu Howl memerangi Nenek Sihir dari Waste dan membereskan masalah penting di Kerajaan Ingary, Sophie baru tahu bahwa selama ini Howl sudah tahu bahwa dia adalah nenek palsu. Dan sebenarnya, Howl sudah beberapa kali berusaha membebaskannya dari kutukan itu, hanya saja tidak berhasil karena kutukan itu kuat sekali.

Aku suka banget waktu Sophie beralasan bahwa dia memang sial, karena dia anak pertama dan Howl menukas dengan 'Omong Kosong! Kau hanya malas berpikir!!" hihihi... 

Sayang sekali kisah antara Howl-ku dengan aku, tidak berakhir semanis kisah Howl dengan Sophie. Tapi membaca cerita anak-anak seperti ini, kadang heart-lifting banget.. I luv it.






Jumat, 04 April 2014

Small Wonder - Vicky Lawson

Halo Artis... (karena aku yakin sampai saat ini kamu satu-satunya pembaca)..
sudah lama aku gak nge-blog. Gak sempet! Pertama karena sibuk kerja, kedua karena sibuk .... streaming! Ya! Gara-gara kamu, aku ketagihan streaming. Tapi kali ini aku ketagihan streaming TV Series yang panjangnya 95 episode.. sampai kuotaku habis n kusiapkan lagi 8 Gb!
Meski begitu, kamu gak usah berharap banyak, Tis. Aku bukan streaming korea. Aku streaming..... Small Wonder!! Aku gak tahu kamu ingat atau tidak, Tis? Mengingat kamu pasti udah SD juga waktu TV Series ini diputer di TV Tahun 1985-1989. Entah kalau di Indonesia, aku lupa. Waktu itu cuma ada satu stasiun, TVRI.. kadang TVRI Pusat Jakarta, yang filmnya lumayan. Kalau gak salah: Rabu:  Growing Pain, Full House. Kamis, Small Wonder? Harinya rada lupa. Yang jelas bukan hari libur. Akibatnya, aku selalu curi-curi kalau liat ini. Kalau beruntung, bisa liat sampai habis.

Oke, kalau kamu gak ingat judulnya, Tis... mungkin kamu ingat tokohnya: Vicky Lawson.. sang robot canggih yang amat mirip anak perempuan kecil? Aku setengah mati pingin punya poni kayak dia tapi gak pernah berhasil. Aku dulu gak pernah liat Episode I nya, jadi sekarang aku cari di YouTube n ADA!! Kamu harus liat, ini lucu sekali. Film anak-anak tahun ini masih lumayan sopan, muatannya juga masih konvensional... meski sering ada adegan kissing antara Mr. Ted Lawson dan Istrinya, ayah ibu Jamie Lawson. Yang paling lucu adalah computernya... Jaduuuuuuuuuul buangeeeeeeeeeeeeet! Bahkan mungkin neneknya jadul! Secara ini tahun 85! Keyboardnya aneh banget. Tapi mereka pake istilah-istilah yang sekarang tetep familiar.. misalnya microchip.. dan VICI. Oh ya, nama Vicky sebenarnya adalah VICI, alias Voice Input Child Identicant.

Vicky ini persis banget seperti anak perempuan kecil umur 11 tahunan.. kecuali suaranya yang tanpa nada dan wajahnya yang tanpa ekspresi. Dia juga sering mengartikan kalimat-kalimat manusia dengan literally banget! Kalau kamu bilang : tuangkan aku kopi, dia akan menuangkan kopi padamu!
Vicky semakin lama semakin pintar, karena dia menyimpan semua sikap, kata-kata orang disekitarnya dan menggunakannya disaat yang dianggapnya tepat.. meski kadang tidak! Seringnya dia menirukan dengan ngawur. Hihi..  Dia punya colokan USB di ketiaknya, yang sering disambungkan ke komputer kalau Ted mau memasukkan program baru.

Salah satu episode kesukaanku adalah The Shoplifter. Silahkan di lihat sendiri! Lucu banget!


Minggu, 16 Maret 2014

My Best Friend's Wedding - sudut pandang 2014

Wishing and Hoping -- Lagu pembuka yang lucu.
Gara-gara iseng liat Glee - Glee-7 episode Sadie Hawkins - dan liat Marley dkk bawain "Tell Him" yang asyik banget, jadi ingat 'Lho, kok kayaknya lagu ini ada di My Best Friend's Wedding, ya?"
Setelah cari-cari di youtube dengan berbagai kata kunci, ternyata Gak Ada! Hmm.. itu aneh. Harusnya kita bisa menemukan clip-nya Glee dengan mudah, lho. Tapi yang ada cuma Say A Little Pray For You (lagunya My Best Friend's Wedding juga).
Nah, karena penasaran, aku buka megashare dan langsung tonton streaming! Kebetulan simpati lagi baik, gak pake buffering, lancar jaya.. mana kuota sudah menumpuk sebanyak 3400 Mb. So, ini hasilnya.

Waktu pertama kali nonton My Best Friend's Wedding dulu aku masih 21-22 tahunan. Nonton-nya di computer desktop, sambil makan marning.. n berpikir wow, mereka sudah 28 tahun! (Ha!!Ha!!). Waktu itu kuanggap Kimmy (Cameron Diaz) cantik yaa.. meski sedikit gemuk (really??!!) dan Julianne ( Julia Robert ) cantik meski rambutnya hawul-hawul. Aku tidak pernah menganggap Michael (Dermot Mulroney) ganteng.. George (Rupert Everett)-lah selalu yang jadi idolaku.. (Are you sure you are gay, George? T_T  ).

Julianne bersahabat dengan Michael selama kurang lebih 9 tahun. Selama itu, Michael adalah 'pria dalam hidupnya', dan Julianne adalah 'wanita dalam hidupnya'. Bersama mereka sudah melewati banyak hal. Kehilangan orang yang dicintai, kematian orangtua masing-masing, patah hati dan jatuh cinta.. pendek kata, mereka selalu ada satu untuk yang lain. Sejauh ini, persahabatan mereka sempurna, meski terpisah jauh, Julianne di New York dan Michael di Chicago. Demikian sempurnanya, hingga mereka pernah berjanji bahwa apabila nanti di usia ke-28 mereka sama-sama belum menikah, mereka akan menikahi satu sama lain.

Cinta memang susah dilihat.. terutama saat dia ada di depan kita. Untuk Julianne, itu mungkin karena dia sebenarnya takut, takut pada cinta, takut untuk mencintai, takut untuk dicintai dan takut untuk mengakui keinginannya untuk belong to someone --> maksudnya someone yang dia cintailah. Mungkin karena itu, dia merasa sangat nyaman dengan hubungan sahabat, dan tidak menyadari bahwa cinta yang ditakutinya itu sebenarnya sudah lama ada diantara mereka berdua.

Hari H - ulangtahun ke-28 mereka berdua semakin dekat. Saat Julianne mendapati voice-mail nya dipenuhi pesan panggilan dari Michael, ia terkenang akan janji mereka. Namun ketika akhirnya Julianne menelpon balik pada Michael, ternyata pria itu berusaha keras menghubunginya untuk memberitahu bahwa ia akan menikah. Dalam waktu tiga hari.

Apa yang lebih menyakitkan dari menyimpan jauh-jauh harapan yang tidak berani kita harapkan dan mendadak mendapatinya lenyap? Aku rasa itu yang dirasakan Julianne saat ia terjungkal jatuh dari tempat tidurnya. Lebih parah lagi, Michael memintanya datang, dan menjadi best-maid untuk pernikahannya. Julianne memutuskan untuk datang. Bukan karena dia berlapang dada, tapi karena dia bertekad untuk merebut Michael kembali. Dengan cara apapun.

Aku ingat bertahun-tahun lalu, ada seseorang yang berkata kepadaku: "aku tahu kenapa sangat sulit buatmu untuk melepasnya pergi. Karena dalam hati kamu merasa, kamu lebih bisa membahagiakannya dari pada cewek itu"
Nah, dalam film ini, begitulah kejadiannya. Bagaimana mungkin, pikir Julianne, Kimmy yang baru kenal Michael sebentar, bisa jadi isteri dan kekasih yang lebih baik bagi Michael daripada dirinya, yang sudah mengenal Michael luar dalam?! Itu, dan perasaan 'Michael belong to me!'
Julianne datang ke Chicago dan menemukan bahwa Kimmy, yang baru 20 tahun, ternyata 180 derajat berlawanan dengan dirinya sendiri. Kimmy gadis yang ekspresif, ceria dan cantik.... sempurna.

Dalam tiga hari, Julianne mengusahakan berbagai cara untuk menyabotase hubungan keduanya, mulai dari cara halus.. sampai menulis email palsu yang belakangan membuat Michael dipecat. Namun dalam tiga hari itu justeru dia menyadari dua hal: bahwa Michael pernah sangat mencintainya, bahwa dia masih sangat mencintai Michael.

Film ini sangat menyentuh dengan adegan-adegannya yang sederhana dan penuh dengan lagu-lagu yang asyik. Bagaimana Julianne, yang desperate, menemukan George tiba-tiba sudah berdiri di depan pintu kamarnya.. Pria itu terbang 800 miles untuk menemaninya, berpura-pura jadi tunangannya, bersosialisasi dengan seluruh keluarga besar Kimmy dan, yang paling penting, George selalu ada untuknya.

Ada banyak dialog dalam film ini yang aku suka banget... Tapi yang aku pilih ini ada kepentingan pribadi:

Julianne: In the beginning it was mostly this prior claim, he belonged to me. But now, when I'm with him, he's just so wonderful. How come I never knew that when I could have had him? 
George: It's amazing, the clarity that comes with psychotic jealousy.

^_^  ...

Oh ya, lagunya "Tell Him" gak ada disana...

miss you..