I luv this book!! Oke.. sebagian karena tokoh utamanya, Sophie Hatter, rasanya kok mirip sekali dengan diriku sendiri (dan dibenarkan oleh si Artis, yang aku yakin masih tetap satu-satunya pembaca blog-ku ini). Sebagian lagi, karena buku ini enak dibaca. Bahasanya lucu. Lugas-lugas rada sedikit apatis tapi lucu.. Aku belum baca bahasa Inggrinya, sih. Tapi rasanya pasti asyik juga.
Howl's Moving Castle adalah karya Diana Wynne Jones, diterbitkan di London. Seperti cerita anak-anak terbitan Inggris lain yang pernah kubaca, Howl's Moving Castle juga punya gaya bahasa yang ringan. Sederhana. Tapi mewakili banget karakter tokoh utamanya, dalam hal ini Sophie Hatter, sang puteri pembuat topi. Cerita ini ditulis dengan setting Negeri Ingary.. yang digambarkan sebagai 'negeri dimana sepatu ajaib dan jubah yang bisa membuatmu menghilang benar-benar ada'. Sebentar, jadi ingat Cloak of Invisibility-nya Harry Potter, kan? Well, Howl's Moving Castle diterbitkan Tahun 1986, jadi bukan mencontoh Harry Potter. Malah dengar-dengar buku ini adalah salah satu buku yang menginspirasi JK. Rowling menuliskan Harry Potter, lho.. Tapi tenang aja, ceritanya beda jauuuh..
Seperti yang sudah aku sebutkan diatas, sejak pertama baca, aku merasakan banget kemiripan si Sophie Hatter ini dengan aku. Kemiripan pertama, kami sama-sama anak pertama. Kemiripan kedua, kami sama-sama yakin tidak punya keberuntungan dalam hidup ini. Di Negeri Ingary, dipercayai bahwa anak pertama tidak akan menemukan keberuntungan kalau dia merantau. Itulah kenapa Sophie percaya, kalau dia dan kedua adiknya pergi merantau, dia akan jadi orang yang merasakan kegagalan dan keburukan. Nah, Sophie punya dua orang adik, yaitu Lettie yang cantik dan Martha yang cerdas. Yang Sophie tidak tahu, bakat sihir paling kuat justeru menurun pada dirinya.Kekuatan sihir Sophie, yang tidak disadarinya, adalah kata-katanya bisa menempel seperti mantera, dan bahkan bisa menghidupkan benda-benda.
Di Negeri Ingary saat itu ada dua penyihir hebat yang paling ditakuti. Yang pertama adalah Nenek Sihir dari Waste. Yang kedua adalah Penyihir Howl, yang tinggal di sebuah istana bergerak yang melayang di atas tanah. Penyihir Howl ini jauh lebih menakutkan, karena menurut desas-desus, suka memakan hati dari gadis-gadis muda yang cantik. Sophie sama sekali tidak menyangka bahw dalam satu hari dia akan berurusan dengan keduanya.
Karena kesalahpahaman, Nenek Sihir dari Waste telah menyihir Sophie menjadi tua. Berubah menjadi nenek berumur 90 tahun ternyata mengeluarkan sisi lain dari kepribadian Sophie. Sophie yang semula penakut, tiba-tiba dengan gagah berani menyerbu masuk ke rumah Howl dan memaksa untuk tinggal disana. Bukan cuma itu, Sophie berhasil mengintimidasi Calcifer, jin api di rumah Howl dan memaksa si jin takluk padanya, Sophie berhasil menindas Michael, murid magang Howl, yang akhirnya membiarkan dia tinggal. Sophie juga telah mengobrak-abrik rumah Howl, membersihkannya sampai mengkilap dan bahkan akhirnya membuat Howl angkat tangan juga dan membiarkannya berbuat semau-maunya.
Setelah beberapa lama berkuasa di rumah Howl, dan menjual beberapa mantera ngawur pada pelanggan yang datang untuk beli mantera dari Howls, Sophie akhirnya menemukan bahwa Howl bukan penyihir jahat seperti yang selama ini mereka kira. Lambat laun, setelah membantu Howl memerangi Nenek Sihir dari Waste dan membereskan masalah penting di Kerajaan Ingary, Sophie baru tahu bahwa selama ini Howl sudah tahu bahwa dia adalah nenek palsu. Dan sebenarnya, Howl sudah beberapa kali berusaha membebaskannya dari kutukan itu, hanya saja tidak berhasil karena kutukan itu kuat sekali.
Aku suka banget waktu Sophie beralasan bahwa dia memang sial, karena dia anak pertama dan Howl menukas dengan 'Omong Kosong! Kau hanya malas berpikir!!" hihihi...
Sayang sekali kisah antara Howl-ku dengan aku, tidak berakhir semanis kisah Howl dengan Sophie. Tapi membaca cerita anak-anak seperti ini, kadang heart-lifting banget.. I luv it.